img_main

'Generasi Penerus' adalah gambaran masa depan negerinya

Senin, 18 April 2011

Ditulis oleh : def,  Dilihat : 300 kali

Mari menoleh kembali ke belakang dan melihat potret pendidikan negeri kita. Setiap tahun dan bertahun-tahun, korban putus sekolah tetap saja ada ditengah upaya keras pemerintah memberantas angka putus sekolah. Mengapa? Sepertinya jawaban yang pasti akan hal ini tidak pernah ada, karena upaya untuk mengatasinya masih membutuhkan waktu lebih lama. Tidak mengapa, karena upaya yang dilakukan dengan benar tidak akan pernah sia-sia. Namun ingat, hanya dengan generasi penerus yang terdidik dan bermoral maka gambaran masa depan negeri ini bisa dibayangkan.

Muhamad Syarif (20 tahun), adalah salah seorang korban putus sekolah akibat kemiskinan. Ia hanya bisa menyelesaikan pendidikannya di tingkat SMP karena tidak lagi punya biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Dengan bermodalkan ijasah SMP, Syarif hanya bisa bekerja sebagai tukang cuci mobil yang dibayar per jam. Lain lagi dengan Ali (31 Tahun), yang juga putus sekolah karena keterbatasan ekonomi. Dengan ijasah SMP, ia bekerja sebagai office boy. Ada banyak korban putus sekolah lainnya yang bernasib sama dengan mereka namun kini punya kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya di PKBM Paket C OBI. Dengan jadwal belajar yang diatur malam hari, beberapa siswa PKBM Paket C OBI bisa tetap bekerja dan melanjutkan pendidikannya.

Di PKBM Paket C OBI, selain berkesempatan belajar untuk mengikuti ujian nasional dan mendapatkan ijasah, para siswa dibekali beberapa keterampilan, seperti; belajar komputer, bahasa inggris dan administrasi. Diharapkan, mereka tidak hanya berhasil mendapatkan ijasahnya namun juga siap memasuki bidang pekerjaan yang lebih baik.

Melihat kenyataan ini, seharusnya gemerlap pesta demokrasi setiap lima tahun tidak boleh melupakan tingginya angka kemiskinan dan angka putus sekolah, karena demokrasi hanya akan berarti jika putus sekolah tidak lagi terjadi akibat kemiskinan. Salah satu cara mengatasi angka putus sekolah adalah disediakannya pelayanan pendidikan non formal, seperti; pendidikan kesetaraan Paket A setara SD, Paket B setara SMP dan Paket C setara SMA. Muhamad Syarif, Ali dan korban putus sekolah lainnya tidak menginginkan pesta demokrasi yang meriah. Mereka hanya ingin melanjutkan pendidikan dan memperoleh ijasah demi masa depan yang lebih baik. Apakah ANDA Peduli?

(Foto: Firama Latuheru)



Artikel Terkait :

* Udil...Terpaksa Menjadi Pengamen Untuk Membantu Orangtua
* Bersama Humedica, Berbagi Paket Natal Untuk 1000 Anak-anak Di Nias
* PT. Omron, Memberikan Kesempatan Belajar Komputer

Kirim Komentarmu

Nickname
Email
Komentar

Belum ada komentar