J.K Rowling, di Balik Sukses Harry Potter

MONDAY, 17 JUNE 2013

Total View : 1476 times


Harry Potter sebuah film yang membius dunia dengan fantasi yang disuguhkannya. Film ini awalnya diadaptasi dari novel best seller yang terdiri dari tujuh serial fantasi yang dikarang oleh seorang penulis asal Inggris, J.K Rowling.

Hampir setiap orang memberi penilaian terbaik atas buku Harry Potter ini. Namun sedikit yang tahu bahwa dibalik kesuksesannya terdapat cerita pahit yang dialami oleh sang penulis seputar proses penulisan buku best seller ini.

J.K Rowling menjadi penulis yang dikenal oleh dunia melalui langkah demi langkah yang ia lalui. Rowling yang lahir 31 Juli 1965 di Yate,Gloucestershire, Inggris ini awalnya mengalami banyak persoalan hidup baik persoalan pekerjaannya, kehilangan ibu, perceraian hingga kondisi ekonominya yang sangat memprihatinkan, ia bahkan sempat akan mendapat santunan dari pemerintah Inggris. Rowling bahkan sempat didiagnosa mengalami depresi.

Namun karena sikap positif yang ia miliki dan juga rasa tanggung jawabnya terhadap putrinya, maka Rowling mencoba untuk memulai ide yang awalnya sempat tertunda. Kecintaannya untuk menulis sejak kecil, menjadi modal baginya untuk menulis serial cilik Harry Potter terlaris di beberapa tahun belakangan ini.

Awalnya Rowling adalah seorang guru bahasa Inggris di Portugal sembari menggeluti kecintaannya dengan menulis cerita fantasi. Namun setelah perceraiannya, tahun 1993 ia pindah ke Edinburgh bersama dengan putrinya.

Rowling melanjutkan penulisan Harry Potter yang sempat tertunda itu. Dimana ide lahirnya cerita fantasi ini ketika kereta yang hendak ia tumpangi menuju London terlambat 4 jam. Ia pun punya ide tentang cerita hayalannya Harry Potter ini dengan latar belakang di stasiun kereta api.

Dengan peralatan seadanya, ia menulis Harry Potter dengan mesin ketik manual yang sudah tua. Setelah menyelesaian novel itu, ia kirimkan naskah itu ke beberapa penerbit. Bahkan hingga menulis ulang kembali cerita itu karena ia tak mampu membayar biaya foto copy saat itu. Rowling sangat optimis bahwa bukunya akan terbit dan dipajang di toko di seluruh dunia.

Hingga ke penerbit ke tiga belas yang ia temui, akhirnya karyanya lolos dan disetujui untuk diterbitkan. Pada tahun 1997, penerbit Inggris, Bloomsbury Press menerbitkan buku Harry Potter yang pertama yaang diberi judul Harry Potter and the Philosopher’s Stone. Rowling tak menduga bahwa bukunya akan banyak diminati oleh banyak orang hingga sukses di seluruh dunia. Kesuksesan buku Harry Potter menjadi awal baginya untuk membenahi kembali keterpurukan ekonomi dan pengalaman pahit kehidupannya. Melalui karya ini, Rowling juga mendapatkan berbagai pernghargaan hingga menjadi penulis terkaya di London, Inggris dengan kekayaan senilai $1,1 miliar dengan jumlah penjualan 400 juta buku.

Setelah menyelesaikan Harry Potter hingga tujuh serial, Rowling tetap menulis hingga menyelesaikan kembali buku terbarunya The Casual Vacancy yang telah dirilis pada tahun tanggal 27 September 2012 tahun lalu. Ia berkata bahwa ia bisa saja berhenti menulis dan melupakan masalah ekonomi yang membelitnya namun karena kecintaannya menulis, memberinya semangat untuk terus berkarya dan menghasilkan buku-buku yang disukai oleh banyak orang.


Baca Juga Artikel Lainnya:

C.S Lewis, Sukses Melalui The Chronicles of Narnia yang Legendaris

Nick Friedman, Awali Bisnis Waralaba di Kampus

Kim Lavine, Dari Ibu Rumah Tangga Menjadi Ibu Jutawan

Goenadi Harjanto, Cinta Pada Dunia Fotografi

Jualan Angkringan Ibu Ini Langsung Laris Gara-gara Obat Malam

Source : berbagai sumber | jawaban.com | lori


Mitra CBN

COMMENTS

COUNSELLING

Add Your Comment

Nickname
Email
Comment
  • * pradipta86

    2013-06-17 13:30:38
    MEMANG Harry Potter adalah film yang bagus namunsaya hanya beberapa aja nontonnya gk semuanya saya tonton ... ada banyak yg bsa kita ambil tapi ada juga yg tdk bsa kita ambil sperti belajar sihir ..

"Kunci Sukses"

Jika uang adalah objek hidup kita, kita pasti hidup dalam ketakutan akan kehilangan uang - yang membuat kita menjadi paranoid dan curiga. Jika Ketenaran adalah tujuan kita, kita akan menjadi kompetitif, tidak membiarkan orang lain mengalahkan kita - yang membuat kita menjadi iri hati. Jika kekuasaan dan pengaruh menjadi mesin penggerak kita, kita akan menjadi orang yang mementingkan diri sendiri dan memaksakan kehendak - yang membuat kita menjadi sombong. Dan jika harta yang menjadi allah kita, kita menjadi materialistis, tidak pernah merasa cukup - yang membuat kita menjadi serakah. Semua pengejaran ini berkebalikan dengan wajah yang puas dan sukacita. Charles R. Swindoll  ~ Great Attitudes! Baca juga artikel lainnya : Kunci Tujuan Hidup Will Graham: Dosa Membuat Kita Tidak Tahu Tujuan Hidup Tujuan Hidup Buat Jomblo, Tak Melulu Cari Pacar Sandy Triyasa: Kutemukan Tujuan Hidupku di Hari Natal Indonesia Patut Berterimakasih Kepada Anda!