Bong Chandra : Sukses Dimulai dari Tuhan

MONDAY, 22 MARCH 2010

Total View : 3439 times


Acara yang diadakan oleh Universitas Tarumanegara Fakultas Ekonomi ini, diselenggarakan mulai 15 - 20 Maret. Acara yang dinamakan National Seminar & Career Development 2010 mengangkat tema "Ways to Rise Your Self Esteem", FE UNTAR mempunyai visi ke depan agar lulusan mereka memiliki kepercayaan diri. Dalam seminar yang diadakan pada Sabtu (20/3), UNTAR menuai sukses besar dengan jumlah peserta yang melebihi 500 orang, melampaui ekspetasi yang diperkirakan. Berikut adalah special interview Jawaban.Com dengan motivator termuda di Asia Bong Chandra yang menjadi pembicara dalam acara tersebut.

Pak Bong, sejak usia berapa menjadi motivator?

Sebenarnya kalau untuk perusahaan (sejak) usia 18 tahun,  kalau public itu 20 tahun, jadi untuk public sejak dua tahun yang lalu.

Kenapa memilih untuk menjadi motivator?

Karena dengan menjadi seorang motivator, bukan cuma bisa take tapi juga bisa give. Kita senang melihat orang termotivasi, kita senang melihat orang berubah. Jadi kalau ada orang yang kasih testimony setelah ikut seminar, itu merupakan give atau sebuah penghargaan yang lebih besar dibandingkan dengan uang itu sendiri. Itu yang paling penting. Dan dengan memotivasi, kita mempunyai banyak peluang. Jadi rata-rata hampir semua bisnis yang saya jalani saat ini, itu semua berkat ketika menjadi motivator. Ketika kita give, kita akan take banyak.

Ada punya visi khusus untuk menjalankan profesi sebagai motivator, khususnya untuk menguatkan Indonesia sendiri?

Sebenarnya motivator di Amerika Serikat itu banyak sekali, namun di Indonesia masih belum apa-apa. Tapi sebenarnya bentuknya itu sama. Amerika 200 juta, Indonesia juga 200 juta lebih kan? Mirip-mirip tapi sebenarnya kalau kita lihat jumlah motivator dengan jumlah (penduduk) yang segitu cukup banyak, sedangkan di Indonesia sendiri sedikit. Namun sekarang kita lihat bahwa Indonesia kehidupan ekonominya meningkat sekitar 5.5% sampai 6%, sementara negara lain turun. Ada yang 1%, 0.1% dan bahkan 0%. Di Indonesia masih membutuhkan motivator untuk memotivasi orang Indonesia. Untuk itu saya juga berharap bahwa motivator bukan hanya saya saja. Saya juga berharap banyak lahir dari para motivator-motivator lain dan semua rakyat di kota manapun sampai terkecil bisa terbagi dan bisa mendapatkan informasi. Itu yang paling penting.

Apakah ada latar belakang yang melatari Anda untuk bergerak di bidang property atau menjadi motivator itu sendiri?

Sebenarnya tidak ada latar belakang khusus. Memang saya tipe orang yang senang mencapai prestasi, saya tipe orang yang suka tantangan baru. Ini saya ingin seminar 5000 orang, jadi saya mencoba tantangan baru. Itu sudah berhasil, ah, selanjutnya tantangan bidang property. Terus mungkin setelah property ada yang baru lagi. Kehidupan orang tidak akan berwarna kalau tidak punya sesuatu yang dia kejar. Jadi ketika ada orang yang bilang ‘Saya sudah mendapatkan apa yang saya kejar', kalau gitu cari sesuatu hal yang baru yang bisa dikejar lagi. Karena kita hidup untuk mengejar sesuatu. Bukan berarti kita tidak pernah puas. Itu konteksnya harus diperhatikan. Tapi supaya kita punya gairah, punya passion untuk hidup.

Ketika memulai profesi ini (motivator), apa kiat-kiat / langkah yang diambil?

Ketika memulai, saya masih salah-salah, ketika itu umur saya masih 18 tahun. Saya belajar otodidak, dimulai dari 10 orang, 15 orang, 50 orang, bukan langsung 5000 orang. Nah, di situ saya banyak salah. Salah ngomong, gugup, dari otodidak dan dari jumlah kecil kemudian menjadi terbiasa di hadapan 500 orang. Dan ke depannya di bulan Juni 2010 ini kita launching sekolah bagi anak remaja selama 3 bulan.

Kenapa untuk teens?

Karena saya masih muda, dan saya merasakan apa yang mereka rasakan, jadi saya lebih tahu potensi apa yang mereka miliki. Mereka masih dalam masa pembentukan. Jadi alam sadar belum terbentuk penuh dan itu saat paling tepat untuk membentuk seseorang. Jadi kalau sudah dewasa, sudah lebih sulit. Jadi ini merupakan  potensi yang besar.

Pembentukan mereka lebih ke arah mana?

Kita bikin lengkap, karena itu sekolah kita sampai 3 bulan. Kita bikin ada leadership, ada selling, ada marketing, ada bisnis, ada public speaking, ada banyak hal. Pokoknya ada 7. Jadi mereka tidak hanya belajar motivasi, tapi kita ingin anak-anak ini mempersiapkan diri untuk menjadi seorang entrepreneur nantinya. Itu intinya..

Apakah ada kendala atau pikiran negative dari orang lain tentang Anda sebagai motivator?

Ada, tentu ada. Kita tidak bisa menyenangkan setiap orang 100%. Seperti SBY memenangkan pemilu dengan 60% dukungan dari masyarakat, masih ada 40% yang tidak mendukungnya. Jadi sampai hari ini, hal tersebut tidak membuat saya stop. Apa yang saya kejar, merupakan sesuatu yang lebih besar daripada alasan saya untuk stop.

Dalam hidup Anda, ketika mencapai keberhasilan, apakah Anda tetap mengutamakan Tuhan dalam hidup Anda?

Semuanya sih, saya tidak ingin menjadi orang ‘kacang yang lupa pada kulitnya'. Jadi dari 18 tahun ini, ada pencapaian yang tidak masuk akal, dan hal tersebut terjadi karena Tuhan itu sendiri. Jadi, kenapa selama ini saya berani bicara di depan ribuan orang, itu karena ‘backup' saya luar biasa. Jadi dengan pandangan seperti ini, semuanya yang saya kerjakan itu mengandalkan Tuhan. Jadi jangan sampai Tuhan merasa bahwa kebaikan Tuhan kepada anak ini, sia-sia.

Apa kiat Anda untuk memantaince hubungan dengan Tuhan?

Tak perlu perbuatan besar sih, semuanya dari perbuatan kecil. Jadi apapun yang kita lakukan kita persembahkan untuk Tuhan, dari tindakan-tindakan kecil kita. Seperti talkshow, ini bukan untuk kita tapi untuk Tuhan. Seperti seminar, ini bukan untuk kita tapi untuk Tuhan. Demikian juga dalam bisnis. Jadi dalam kehidupan sehari-hari saja.

Source : jawaban.com/lh3


Mitra CBN

COMMENTS

COUNSELLING

Add Your Comment

Nickname
Email
Comment
  • No comment yet

"Kunci Sukses"

Jika Anda memperlihatkan kepada seseorang hasil pekerjaan Anda dan bertanya padanya, "Apa pendapatmu?", mereka mungkin akan berkata sudah bagus karena tidak ingin menyinggung Anda. Lain kali, daripada bertanya apakah sudah bagus, tanyalah kepada mereka apa yang salah dengan hasil pekerjaanmu. Mereka mungkin akan mengatakan apa yang tidak ingin Anda dengar, tetapi kemungkinan mereka akan memberikan kritik yang jujur. Kebenaran seringkali menyakitkan, namun untuk jangka panjang hal itu lebih baik daripada sebuah tepukan di pundak Anda atau pujian yang hanya basa-basi.