fotoku.jawaban.com | Solusi Life | OBI | Iklan Baris | Video Library | Prayfor | English Article
Register | Login | Forget Pwd
Etika Posting

ma_donna (JC Fever)

18 May 2007 10:14:06

Christopher
Sdri. Ma_Donna,
YANG PERTAMA :
Definisi Anda soal penghasilan halal dan haram saya kira bukanlah definisi yang berlaku umum. Definisi seperti itu pada beberapa profesi, dimana yang bersangkutan adalah orang upahan mungkin saja bisa dipakai sebagai pedoman.

Loh sebagai , pegawaikah, pimpinankah,pengusahakah,bosskah,hamba Tuhankah sampai dengan PRT, bukankah semua itu upahan.

1Ti 5:18 Bukankah Kitab Suci berkata: "Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik," dan lagi "seorang pekerja(baik yang berprofesi sbg apapun) patut mendapat upahnya."

Dan upah halal/haram berlaku untuk semua tingkatan, tanpa dispensasi.
Krn Firman Tuhan berlaku untuk semua lapisan, krn apa Christop?
Krn Tuhan tidak memandang muka, tidak pandang bulu.


Untuk mereka yang bukan orang upahan (pengusaha atau profesional), definisi seperti itu saya kira tidak bisa dipakai.
Sebab jika dipakai, maka hampir semua penghasilan mereka termasuk haram.

Ya belum tentu,
Contoh : seorang pedagang (yang tidak bekerja dengan orang) mendapat untung , apakah ini haram?
Tidak , yang haram kalo dia menipu misal produk kw II dia katakan sbg kw I --> keuntungan yang inilah yang haram, krn menipu,
Ato produk kw I dicampur dg kw II , spy untuknya besar -->keuntungan inilah yang haram.


Mungkin saja, Saudari termasuk orang upahan,

Benar, saya setiap bulan terima salary dr perusahaan.


makanya mendefinisikan halal/haram sudah penghasilan dari sudut Anda atau yang biasanya Anda alami, but it's okay, saya cuma mengingatkan saja.

Hi..hi..[Very Happy]saya juga cuma ingatkan bahwa Firman Tuhan tidak bisa di-dispensasi-kan,

Saya seorang pengusaha, tapi bukan di bidang kontraktor rekanan pemerintah, tapi punya banyak teman kontraktor, jadi tahu persis bahwa definisi Saudari tidak bisa dipake pada bidang profesi kita.

Krn rekan sodara belum kenal Tuhan Yesus,
jadi ya tidak mengherankan kalo mereka belum tahu kebenaran Firman Tuhan [:0]
Yang mengherankan [:0] kalo Christop yang udah tahu kebenaran ,koq praktekkan hal yang sama he..he..[:u]..ti..ati..loh[:u]


Sebab ada tertulis:
Ro 12:2
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Pr 16:8
Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan.


YANG KEDUA :
Saya tidak bilang uang itu dipersembahkan tapi disumbangkan.
Seandainya apa yang kita sumbangkan untuk keperluan gereja, misalnya : buat WC atau pasang AC, dikategorikan sebagai persembahan untuk Tuhan, tapi membaca pendapat Anda, jika itu adalah suatu kejijikan bagi Tuhan, sementara Tuhan lewat gereja telah menerima uang itu, bahkan sudah mengunakannya, apakah bisa dikatakan Tuhan telah ikut makan uang haram ??


Aku tetap mengatakan itu sebagai persembahan,persmb.khusus (diluar persembahan perpuluhan).
Mungkin beda istilah aja ama christop, ttp juga ngaruh ke sikap pada waktu memberi.
Krn yang namanya persembahan (=sembah), pasti akan memberikan yang terbaik, termasuk di dalamnya tidak memberikan yang haram[^], untuk PRIBADI yang disembah, begitu Christ[Cool].
Krn pada waktu menyembah dlm roh & kebenaran, tidak hanya upah kita saja yang harus kudus/halal ttp juga segenap aspek kehidupan kita .

Col 3:23
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (=termasuk di dalamnya untuk gedung gereja).

Tuhan berkati[xo]

Latest update by ma_donna on 18 May 2007 10:14:06

ma_donna (JC Fever)

18 May 2007 11:01:04

jon_sansiro

kalo transferan ratusan juta masuk rekening dari suatu perusahaan, halal atau haram?

Halal Jon[^]
Lawong pesangon PHK je'[Very Happy]

Latest update by ma_donna on 18 May 2007 11:01:04

avebri (JC Lover)

19 May 2007 10:46:34

Sebenarnya kalau mau menilai suatu penghasilan haram atau halal, jelas kategorinya tidak hanya sebatas dari membayar pajak atau enggaknya, tetapi juga dari cara mendapatkan penghasilan tersebut, mencuri, membunuh, merambok, berjudi, walaupun mereka bayar pajak sekalipun tetap itu adalah penghasilan haram, karena cara mereka untuk mendapatkan penghasilan tersebut yang tidak benar

Masalah lalu muncul disini:
Terhadap penghasilan pengusaha yang melakukan praktek seperti ini apakah dikategorikan sebagai penghasilan yang halal atau haram ??

Berdasarkan analogi yang kamu ceritakan di atas, maka jelas penghasilannya haram, karena pengusaha tersebut lebih suka curang (baca mencuri) ketimbang jujur (mengikuti aturan yang sebenarnya).

1. Jika dikategorikan penghasilan haram.
Jika kemudian dari sebagian penghasilan itu, si pengusaha menyumbangkannya ke gereja dalam segala bentuk dan segala jenis derma, apakah bisa dikatakan gereja turut menikmati uang haram ?

jelas tidak bisa dikatakan demikian, karena seperti Vince katakan, gereja tidak mengaudit darimana penghasilan tersebut, jadi jelas yang tetap memberikan persembahan "haram" tersebut yang bener2 tahu, wajar gak memberikan "persembahan" tersebut kepada Tuhan...dimanakah rasa kasih-Nya terhadap Tuhan. tetapi seandainya gereja tahu sumber penghasilan orang tersebut dan masih menerimanya, jelas itu salah.

Jelas kalau kita mengasihi Tuhan, kita pasti memberikan yang terbaik, yang berkenan dihadapan-Nya, karena kita tahu tiada yang tersembunyi bagi Tuhan, dan kita juga pasti mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan, kita berikan dihadapan Tuhan kelak.


2. Jika dikategorikan penghasilan halal.
Apakah Tuhan dapat membenarkan atau minimal memahami kesulitan kita yang terpaksa hingga membenarkan tindakan seperti ini.
Adakah firmanNya dalam Alkitab ???

Tuhan tidak pernah membenarkan perbuatan jahat atas alasan apapun, karena Tuhan sendiri datang sebagai manusia biasa ke dunia, adalah untuk mematahkan semua dalih manusia untuk membenarkan perbuatan dosanya (Yohanes 15 : 22)

Soal membayar pajak jelas adalah kesadaran dari tiap individu, mau gak dia ikut membangun negara atau sekedar ikut menyaksikan orang2 yang sebenarnya bisa ditolong lewat pajak terpaksa menderita dan perlahan2 meninggal....jadi semua ini terletak pada kesadaran individu baik sebagai pembayar pajak maupun sebagai pengelola pajak.

JLU

Latest update by avebri on 19 May 2007 10:46:34

avebri (JC Lover)

19 May 2007 10:56:28

jon_sansiro

kalo transferan ratusan juta masuk rekening dari suatu perusahaan, halal atau haram?

Tergantung, itu transferan dalam rangka apa dulu....???
kalau itu adalah hak yang memang diterima perusahaan atas kompensasi kerjaannya yang sesuai dengan bidangnya jelas halal.

Tapi kalau itu transferan karena spekulasi, penggelapan, pembayar terhadap pekerjaan yang menyimpang dari seharusnya (bidang kerja perusahaan itu) jelas itu adalah haram.

(yang saya jelaskan ini hanya berlaku untuk perusahaan yang benar2 legal, kalau yang ilegal jelas penghasilannya haram).

JLU[xo]

Latest update by avebri on 19 May 2007 10:56:28

jon_sansiro (JC Palz)

19 May 2007 15:13:21

avebri

jon_sansiro

kalo transferan ratusan juta masuk rekening dari suatu perusahaan, halal atau haram?

Tergantung, itu transferan dalam rangka apa dulu....???
kalau itu adalah hak yang memang diterima perusahaan atas kompensasi kerjaannya yang sesuai dengan bidangnya jelas halal.

Tapi kalau itu transferan karena spekulasi, penggelapan, pembayar terhadap pekerjaan yang menyimpang dari seharusnya (bidang kerja perusahaan itu) jelas itu adalah haram.

(yang saya jelaskan ini hanya berlaku untuk perusahaan yang benar2 legal, kalau yang ilegal jelas penghasilannya haram).

JLU[xo]


ok

Latest update by jon_sansiro on 19 May 2007 15:13:21

Christopher (JCer)

24 May 2007 23:06:40

avebri

...tetapi seandainya gereja tahu sumber penghasilan orang tersebut dan masih menerimanya, jelas itu salah.



Wouu..uww,
Menarik menanggapi secara khusus pendapat Sdr. Vincent dan Sdri. Avebri.

Mohon klarifikasi dari Sdri.Avebri, apakah kata "SALAH" pada kondisi yang Anda gambarkan di atas bisa diartikan gereja juga turut menikmati uang haram hasil dari perbuatan yang tidak benar yang dipersembahkan oleh seseorang atau jemaatnya ?

Coba kita ambil perbandingan dengan kasus korupsi dana non-budjeter Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) yang melibatkan mantan menterinya, Rohmin Dahuri, yang kasusnya saat ini sudah memasuki tahap persidangan di pengadilan, yang saat ini sedang jadi pemberitaan media masa.

Karena sudah menjadi konsumsi publik, saya tidak perlu menceritakan kembali duduk perkara kasus ini secara mendetail karena yakin teman-teman juga sudah tahu lewat pemberitaan media.

Singkat cerita, di persidangan pengadilan, Rohmin Dahuri memaparkan penggunaan uang itu dimana menurut pengakuannya, ada banyak politisi, sampai calon presiden-wakil presiden yang mengikuti pilpres 2004 yang ikut menerima dana non-budjeter DKP yang dikumpulkannya.
Dari semua nama yang disebutkan, baru Amien Rais yang mengaku menerima, tapi saya melihatnya ada agenda politik tersembunyi dari Amien Rais dibalik pengakuannya, yang tidak pada tempatnya kita bahas dalam forum ini.

Jika mengacu pada pendapat Sdr. Vincent dan Sdri. Avebri, seharusnya siapa saja yang disebut menerima uang itu ngaku aja.
Katakan aja saya bukan akuntan publik atau auditor yang harus memeriksa dari mana asal usul sumbangan dana yang diberikan kepada saya.
Kan Beres ??????
Gitu aja koq repot !!!!

Tapi kenapa mereka tidak mengakuinya ???
Karena ada klausul hukum, siapa yang menerima suatu hasil dari suatu tindak kejahatan, maka dia dianggap turut terlibat dalam tindak kejahatan itu.

Nah, bagaimana dengan gereja yang mengalami kasus seperti yang saya angkat dalam topik ini ??
Saya tidak dalam usaha untuk menjustifikasi apakah tindakan gereja menerima sumbangan, derma, persembahan, atau apalah istilahnya dari seseorang atau jemaatnya yang ternyata berasal dari perbuatan yang tidak benar itu salah atau benar.
Saya cuma hendak mencari kebenaran apakah dalam hal ini gereja bisa dianggap turut menikmati uang haram atau tidak, bukan apakah perbuatan menerima itu salah atau tidak.

Sebab saya merasakan satu ketidak-adilan dan keanehan jika uang yang kita peroleh dengan cara tidak benar dikatakan haram, lalu jika kita membelanjakan uang itu dikatakan kita memakan uang haram, tapi giliran ada sebagian uang itu kita sumbangkan, kita dermakan, kita persembahkan, atau apalah istilahnya,......
eee..ee..eehh, koq si gereja yang menerima dikatakan tidak turut menikmati uang haram itu.

Apa mungkin uang yang awalnya haram bisa berubah menjadi halal hanya gara-gara disumbangkan, didermakan, dipersembahkan, atau apalah istilahnya, ke gereja ?
Adakah dasar Alkitabiahnya ?






Latest update by Christopher on 24 May 2007 23:06:40

Christopher (JCer)

24 May 2007 23:23:05

Dari pandangan/pendapat rekan-rekan yang sudah ikutan posting di forum ini, secara umum apakah dapat disimpulkan :

1. Bahwa seseorang yang penghasilannya berasal dari perbuatan yang tidak benar, sebaiknya tidak perlu mendermakan, mempersembahkan, atau apalah istilahnya, ke gereja atau kepada Tuhan ?

2. Bahwa orang tersebut sebaiknya mengganti profesi / pekerjaan / bidang usahanya ? Misalnya kontraktor, ya jangan lagi jadi kontraktor.

Di negara yang korup seperti Indonesia ( Data 2006 : No.2 Asia, No.6 Dunia), dimana pungla-pungli adalah hal yang wajar, adakah usaha yang bebas darinya, hingga pengusaha tidak perlu "mencuri" dalam menjalankan usahanya ?
Aaa..aakhhh..., mungkin hanya ada di Republik Mimpi.

Latest update by Christopher on 24 May 2007 23:23:05

avebri (JC Lover)

25 May 2007 12:29:12

Mohon klarifikasi dari Sdri.Avebri, apakah kata "SALAH" pada kondisi yang Anda gambarkan di atas bisa diartikan gereja juga turut menikmati uang haram hasil dari perbuatan yang tidak benar yang dipersembahkan oleh seseorang atau jemaatnya ?

bukan seperti itu, sekarang aku mau tanya, ada gak jemaat yang membuat daftar penghasilnya dan melaporkannya ke gereja...??? gak ada kan, jadi haram halalnya pengahsilan jelas yang tahu bener, adalah si pelaku dan Tuhan saja, nah kalau si pemberi [persembahan tahu, penghasilannya haram, kok tega memberikannya kepada Tuhan, mana bukti kasih-Nya kepada Tuhan....

Jika mengacu pada pendapat Sdr. Vincent dan Sdri. Avebri, seharusnya siapa saja yang disebut menerima uang itu ngaku aja.
Katakan aja saya bukan akuntan publik atau auditor yang harus memeriksa dari mana asal usul sumbangan dana yang diberikan kepada saya.
Kan Beres ??????
Gitu aja koq repot !!!!

weks jangan bikin kesimpulan sembarangan efeknya jelas beda, karena yang menjadi penekanan postingan saya adalah hati nurani sip pemberi apakah layak dia ngasih persembahan ke Tuhan dari hasil kejahatan...layakkah, kalau gereja jelas kita gak bisa menjudge mereka menikmati hasil kejahatan, karena memnag gereja tidak memeriksa sumber penghasilan si pemberi persembahan, kalau gereja tahu bahwa penghasilan tersebut yang disumbangkan itu haram tetapi masih diterima itu jelas salah.

Ibarat kata nih, apakah bayi yang tidak tahu apa2 bisa dikatakan ikut menikmati makanan atau susu dari orang tuanya yang korupsi....????

Sebab saya merasakan satu ketidak-adilan dan keanehan jika uang yang kita peroleh dengan cara tidak benar dikatakan haram, lalu jika kita membelanjakan uang itu dikatakan kita memakan uang haram, tapi giliran ada sebagian uang itu kita sumbangkan, kita dermakan, kita persembahkan, atau apalah istilahnya,......
eee..ee..eehh, koq si gereja yang menerima dikatakan tidak turut menikmati uang haram itu.

kembali ke hati nurani orang yang melaksanakan, gereja tidak bisa dikatakan menikmati uang haram tersebut kalau gereja gak tahu, kalau gereja tahu itu uang haram tapi masih diterima, tanyakanlah hati nurani dari gereja tersebut, kenapa masih menerima unag haram tersebut.


Apa mungkin uang yang awalnya haram bisa berubah menjadi halal hanya gara-gara disumbangkan, didermakan, dipersembahkan, atau apalah istilahnya, ke gereja ?
Adakah dasar Alkitabiahnya ?

Baca lagi ayat yang saya postingkan sebelumnya yah.

JLU


Latest update by avebri on 25 May 2007 12:29:12

Vincent1 (JC Palz)

25 May 2007 12:29:43

1. Bahwa seseorang yang penghasilannya berasal dari perbuatan yang tidak benar, sebaiknya tidak perlu mendermakan, mempersembahkan, atau apalah istilahnya, ke gereja atau kepada Tuhan ?

Ya. Dan kalo perlu, kembalikan dana itu kepada yang memberikan kepada anda.
2. Bahwa orang tersebut sebaiknya mengganti profesi / pekerjaan / bidang usahanya ? Misalnya kontraktor, ya jangan lagi jadi kontraktor.

Bukan begitu. Kerja di kontraktor,itu ada enaknya, ada tidak enaknya. Tidak enaknya yah ini, sebentar-sebentar, kong kali kong. Sedangkan enaknya kerjaan nggak pernah monoton, everyday is a challenge. That's make me miss a job like this ....

Latest update by Vincent1 on 25 May 2007 12:29:43

avebri (JC Lover)

25 May 2007 12:45:58

1. Bahwa seseorang yang penghasilannya berasal dari perbuatan yang tidak benar, sebaiknya tidak perlu mendermakan, mempersembahkan, atau apalah istilahnya, ke gereja atau kepada Tuhan ?

yup

2. Bahwa orang tersebut sebaiknya mengganti profesi / pekerjaan / bidang usahanya ? Misalnya kontraktor, ya jangan lagi jadi kontraktor

kalau pekerjaannya legal, berarti kerjaannya gak perlu di ganti, uang perlu diganti adalah sistem kerjanya, pakai cara2 yang jujur, mungkin secara birokrasi akan mengalami hambatna, tapi ingat ada Tuhan yang mengendalikan segalanya. Karena itu libatkan Tuhan dalam segala pekerjaan (legal).

Di negara yang korup seperti Indonesia ( Data 2006 : No.2 Asia, No.6 Dunia), dimana pungla-pungli adalah hal yang wajar, adakah usaha yang bebas darinya, hingga pengusaha tidak perlu "mencuri" dalam menjalankan usahanya ?
Aaa..aakhhh..., mungkin hanya ada di Republik Mimpi.

belajarlah untuk jujur, karena perubahan selalu dimulai dari diri sendiri. kalaupun semua orang korup, akankah kita yang tahu itu salah masih ikutan korup juga...???

JLU

Latest update by avebri on 25 May 2007 12:45:58